Penggunaan Koma Pada Adjective Clause

Sunday, July 1st, 2012 - grammar

Seperti penjelasan terdahulu mengenai Adjective Clause, bahwa definisi Adjective Clause adalah Clause (anak kalimat) yang digunakan/berfungsi sebagai adjective yang menerangkan keadaan noun atau pronoun. Namun kadangkala kita sering menemui kalimat Adjective Clause yang diapit dengan koma, disisi lainnya tidak. Apa sebenarnya bedanya?

1. Tanpa Koma

Apabila Adjective Clause tidak diapit dengan koma, itu berarti informasi yang diberikan adalah penting secara utuh, sedangkan

2. Dengan Koma

Adjective Clause yang diapit dengan koma berarti klausa yang ada di dalam 2 koma adalah bersifat informasi tambahan saja. Apabila tidak kita gunakan, orang yang kita ajak bicara sudah mengerti maksudnya.

Perhatikan contoh kalimat di bawah ini:

  1. President Soekarno, who was the first President of Republic of Indonesia, was an excellent orator.
    (Presiden Soekarno (yang merupakan presiden pertama RI) adalah seorang operator ulung)
  2. President Soekarno who was born on June 6, 1901 was the first President of Republic of Indonesia.
    (Presiden Soekarno yang dilahirkan pada tanggal 6 Juni 1901 adalah presiden pertama RI)

Penjelasan:

Pada kalimat No.1, kalimat “who was the first President of Republic of Indonesia” adalah informasi tambahan saja. Kalimat asli No.1 di atas adalah “President Soekarno was an excellent orator”. Pendengar atau pembaca sudah tahu betul hal itu, walaupun tidak kita sebutkan.

Dalam Bahasa Indonesia, fungsi ini sama dengan berikut ini: “President Soekarno (who was the first President of Republic of Indonesia) was an excellent orator.”

Sedangkan pada kalimat No.2, Klausa “who was born on June 6, 1901″ merupakan informasi yang memang penting untuk diberitahukan. Barangkali si Penulis ragu kalau informasi tentang kelahiran Soekarno tidak diketahui oleh Pembaca atau penulis.

Kalau begitu, apa bedanya kedua kalimat di bawah ini?

  1. My wife who works at a bank goes to Mecca.
    (Istri saya yang bekerja di bank pergi haji)
  2. My wife, who works at a bank, goes to Mecca.
    (Istri saya (yang bekerja di bank) pergi haji)

Pertanyaan saya adalah, dari kedua kalimat di atas, mana yang menunjukkan kalau istri saya lebih dari 1 (satu)?

Jawabnya adalah kalimat No. 1. Mengapa? Karena kalimat kedua (yang diapit oleh koma) merupakan informasi tambahan saja. Tanpa klausa itu pun, orang lain sudah tahu kalau istri saya memang bekerja di Bank.

Bagaimana dengan kalimat di bawah ini. Mana yang menunjukkan bahwa anak-anak tidak hanya ingin bermain sepak bola?

  1. We took some children on a picnic. The children who wanted to play soccer ran to open field as soon as we arrived at the park.
    (Kami membawa anak-anak pikini. Anak-anak yang ingin bermain sepak bola berlari menuju lapangan sesampainya mereka di taman)
  2. We took some children on a picnic. The children, who wanted to play soccer, ran to open field as soon as we arrived at the park.
    (Kami membawa anak-anak pikini. Anak-anak (yang ingin bermain sepak bola) berlari menuju lapangan sesampainya mereka di taman)